Proyeksi Masa Depan Saya Banyak yang Bergeser Dewi Nur Aisyah Part 34

KALA: Berarti apa yang sudah Mbak capai sekarang tuh termasuk dalam proyeksi Mbak pada waktu usia 20 awal? Dewi: Nggak. Jadi banyak yang bergeser. Dari mulai saya lulus SMA itu saya sudah menulis, “saya mau nikah setelah saya S2”, bergeser, saya nikah ternyata sebelum saya S2. “Saya mau sekolah S2 langsung setelah saya lulus S1”, Allah tunda 1 tahun. “Saya mau lulus S3 langsung setelah saya lulus S2”, Allah tunda 2 tahun. Jadi nggak akan ada yang mulus banget. Tapi adalah tergantung bagaimana kita menyikapi apa-apa yang Allah putuskan untuk kita. Apa-apa yang sudah Allah tuliskan skenario hidup kita. Itu sih, jadi nggak mungkin semuanya akan mulus berjalan. Ketika S1 alhamdulillah Allah mudahkan segalanya. Saya merasa bahwa apa-apa yang sudah saya tulis di perjalanan awal kuliah saya, semuanya Allah wujudkan. Semuanya Allah wujudkan, nggak ada yang nggak Allah wujudkan. Tapi ketika mulai lulus S1, saya merasa bahwa ada, ada jeda. Allah memberikan jeda untuk bagi saya menunggu. Jadi saya percaya bahwa apapun doa yang kita berikan, Allah bisa berikan segera, kadang Allah tunda, atau kadang Allah gantikan dengan yang lebih baik dari apa yang sudah kita rencanakan. KALA: Oke. Waktu usia 20an tahun, kalau misalnya kami lihat gitu Mbak, tadi kan banyak tujuannya Mbak memang pengen menjadi pendidik atau gimana Mbak, sampai akhirnya mau menjadi, mau melanjutkan S2, kemudian S3, gitu? Dewi: Jadi dulu tuh pas setelah lulus S1 pasti banyak ya, dari mulai lulus SMA mau kuliah jurusan apa aja kita suka galau. Abis lulus S1 juga mulai muncul kegalauan. Kita mau ngapain sih? Nikah dulu? Kerja dulu? Atau kuliah lagi? Itu akan selalu ada pertanyaan yang muncul. Ketika saat saya lulus S1, ada 3 tawaran pekerjaan yang datang ke saya. Yang pertama itu dari grup riset yang ada di FKM UI dari Global Fund , satu lagi dari Kemenkes, satu lagi jadi asisten peneliti dari profesor yang ada di UI. Saya milih yang mana? Sampai akhirnya Allah gerakkan saya untuk ngambil pilihan ketiga. Karena memang passion saya dari awal adalah saya ingin menjadi seorang pendidik atau pengajar. Saya ini menginginkan ilmu-ilmu yang sudah saya dapatkan ingin saya bawa lagi ke Indonesia. Itu juga yang menyebabkan saya mengambil kuliah S2 di Imperial College London dengan jurusan Modern Epidemiology, di Indonesia nggak ada, ilmunya belum ada. Itulah kenapa saya akhirnya kuliah dan niatnya adalah kembali ke Indonesia mengajarkan ilmu itu, agar Indonesia juga bisa lebih maju. Meng..apa ya? Minimal menyamakan dengan kemajuan dari orang-orang di luar negeri. Itu sih, memang passion saya ingin menjadi pengajar atau akademisi. Itu juga yang menyebabkan saya banyak lebih harus menuntut, S2-S3 itu kan biasanya dibutuhkan oleh mereka yang mau mengajar atau di laga penelitian. Jadi itu jugalah yang menjadi landasan bagi saya untuk lanjut sekolah terus. KALA: Terus yang menginspirasi Mbak sehingga Mbak memutuskan untuk ingin concern di bidang pendidikan, mengajar itu, ada sesuatu momen atau ada seorang tokoh Mbak? Dewi: Emm itu pertanyaannya agak sulit. Jadi sebenernya saya juga bingung ketika ditanya “kenapa sih mau begini? Kenapa sih mau begitu?” Dulu itu yang saya fikirkan bener-bener adalah seseorang itu kalau ingin, kalau seseorang ingin memberi pengaruh yang besar, ia haruslah memiliki sesuatu yang bisa ia berikan. Kalau nggak, nggak mungkin bisa. Dan akhirnya ketika jaman S1 aja saya berfikir, “kalau belum pernah ada orang yang pertama, maka sayalah yang akan menjadi orang pertamanya”. Kalau kita nggak menjadi orang yang pertama pasti akan ada orang lain yang akan menjadi orang yang pertama. Jadi ketika saya lulus 3.5 tahun saya adalah orang pertama yang lulus paling cepat di departemen yang saya kuliah di S1. Ketika saya masuk ke Imperial College London menjadi muslimah Indonesia yang pertama kali kuliah di sana. Ketika saya S3 ini pun, ya akhirnya menjadi muslimah pertama di departemen UCL dan sebagainya. Jadi saya selalu berpikir bahwa, ya tadi, kalau memang nggak ada orang lain sebelum kita, jadilah yang pertama. Momen yang membuat saya berpikir saya ingin menjadi pendidik atau pengajar, mungkin memang passion dari awal kali ya? Saya nggak memiliki seorang tokoh yang saya lihat gimana..gitu, yang rasanya ingin saya ikutin, nggak juga. Emm tapi saya melihatnya bahwa, pilihan apapun yang akan kita ambil ke depan pastikan pilihan itu akan memberi kebermanfaatan. Akan memberikan nilai tambah bagi kita, menjadi catatan amal, sehingga dapat memberatkan timbangan kita di akhirat nanti. Itu aja sih sebenernya. KALA: Dan menurut Mbak mengajar itu salah satu yang bisa Mbak lakukan gitu? Membagi ilmu. Dewi: Karena ya ilmu yang bermanfaat itu kan termasuk amal jariyah, nggak akan pernah putus. Jadi itu sih yang saya pikir. Kalau saya memberikan pemahaman, pemahaman ini bisa dipakai oleh orang banyak dan nggak pernah terputus, akhirnya akan menjadi amal jariyah tersendiri untuk saya. KALA: Bagaimana Mbak menjadi seorang yang, seseorang yang bisa menjadi ibu yang menginspirasi anaknya Mbak? Kan misalnya Najwa dengan sekarang yang banyak, apa ya, banyak memberikan kita pelajaran-pelajaran. Meskipun dia masih kecil tapi banyak memberikan kita gambaran-gambaran berpikir gitu. Bagaimana Mbak bisa menjadi ibu yang menginspirasi anaknya? Dewi: Saya nggak bisa bilang saya menginspirasi anak saya sih. Karena anak saya pun usianya masih 4.5 tahun. Saya nggak pernah tahu ke depannya dia akan menjadi apa, akan seperti bagaimana hidupnya. Yang bisa dilakukan bagi setiap orangtua adalah memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Saya nggak bisa bilang saya menginspirasi bagi anak saya, karena saya nggak tau ke depannya akan gimana. Karena sejujurnya saya menyerahkan segala sesuatu perkembangan anak saya itu hanya pada Allah. Allah Yang Maha Menjaga, bukan saya yang menjaga. Ketika di saat saya deg-degan saya harus meninggalkan anak saya sekian lama, akhirnya saya memahami bahwa memang satu-satunya Zat yang mampu menjaga anak saya, sebaik-baik pemelihara memang hanya Allah. Saya nggak bisa memiliki kekuasaan apapun terhadap anak saya. Pun dalam menghiasi hatinya. Yang mengisi hati dia, mengukirkan imannya, itu semua hanya ikhtiar yang setiap orangtua lakukan. Tapi satu-satunya Zat yang dapat memutuskan bahwa ia akan benar-benar tumbuh dengan iman dan ketakwaan yang baik, ya memang hanya keputusan Allah. Maka, bagi saya tugas orangtua ini ikhtiarnya bentuknya memberikan keteladanan, mengajarkan kebaikan, menumbuhkan keimanan dan lain sebagainya. Tapi yang harus kita pahami, jangan lupa berdoa kepada satu-satunya Zat Yang Maha Mendengarkan, bahwa hanya Ialah yang memiliki segala kekuasaan untuk menjaga anak-anak kita hingga dewasa. Begitu. (Lanjut ke Part 4) Like, Comment, & Subscribe :) Follow Instagram kami @kalajournal Terima kasih sudah menonton :)

Loading