Tentang Menikah Pendidikan dan Dulu Saya Belum Berhijab Dewi Nur Aisyah Part 24

KALA: Berarti kan pada usia 20an tahun pun Mbak Dewi sudah memutuskan untuk menikah gitu Mbak. Apa Mbak pertimbangannya untuk akhirnya menikah di usia 20an tahun? Atau bahkan lebih muda, sekitar 20an awal. Dewi: Nggak, nggak. Saya 20..saya menikah usia 22. KALA: Ah, 20 awal maksudnya Dewi: Iya, iya. Setahun setengah setelah saya lulus kuliah, karena lulus S1 saya 3.5 tahun. Jadi setelah lulus S1, 1.5 tahun kemudian saya menikah. Apa sih yang mendorong? Yang mendorong hanya, hanya keputusan Allah aja. Jadi bukan kalau ditanya, “kenapa kamu memutuskan untuk menikah pada usia 22 tahun?” itu bukan karena saya pribadi, bukan karena jawaban saya tapi karena jawabannya Allah. Ketika Allah sudah memutuskan ini adalah jodoh kamu, dan saya menikah bukan karena, bukan karena saya ingin yang ABCD, tapi tergantung dari hasil istikharah saya. Ketika hasil istikharah saya ternyata lebih mantap untuk menikah pada saat itu, maka saya menikah pada usia itu. Jadi yang memutuskan bukan saya, tapi lillahi ta’ala, karena Allah aja. KALA: Ini Mbak yang sering menjadi pertanyaan orang gitu, ketika “Gimana sih kamu bisa yakin sama dia?” kayak gitu-gitu, “Gimana sih bisa ketemu jodohnya?” kayak gitu kan. Itu kan pertanyaan-pertanyaan umum di usia 20an tahun gitu. Bagaimana tuh Mbak? Dewi: Ya, ya, kedengeran. Keyakinan itu datangnya dari hati. Nah kalau ditanya, “bisa mantap itu, apa sih yang dirasakan mantap?” Mantap itu rasanya dari hati. Jadi bisa jadi jawaban istikharah itu nggak langsung saya bermimpi bahwa dia adalah suami saya, nggak gitu juga, tapi jawaban istikharah itu yang paling lebih terasa adalah kemantapan hati kita. Mantap untuk lanjut proses menikah atau mantap untuk tidak lanjut lagi. Jadi kemantapan hati. Dan yang kedua, saya memang merasakan kemudahan dari orang-orang di sekitar saya. Jadi kalau misalnya dulu, sebenernya orang tua saya ini prefer suami saya ini adalah orang yang berasal dari suku yang sama, yaitu dari Jawa. Tapi entah kenapa, sudah ada beberapa yang melamar tapi entah kenapa yang datang itu pun bukan orang Jawa. Dan ibu saya sampai dengan detik itu berkata, “masih belum sreg dek”, kayak gitu lah. Sampai dengan akhirnya, si suami saya yang sekarang ini datang, dan dia berasal dari Padang. Entah kenapa hati ibu saya terbuka untuk menerima padahal dia bukan keturunan Jawa. Jadi itu salah satu kemudahan yang kita lihat dalam prosesnya. Bukan hanya kemantapan hati yang kita dapat tapi juga ternyata ada kemudahan dari sisi luar, dari lingkungan sekitar kita. Orangtua yang dulunya nggak mendukung dan tiba-tiba sekarang menerima. Itu berarti kemudahan yang Allah berikan dan menunjukkan bahwa inilah yang terbaik buat saya. KALA: Ooh gitu, oke Mbak. Semoga nantinya itu bisa menjadi kayak pesan gitu buat teman-teman yang lainnya. Trus kemudian Mbak, kalau misalnya hal yang menarik di usia 20an tahun apa Mbak? Dewi: Hal yang menarik itu adalah ada begitu banyak hal yang bisa kita bagi, ketika usia kita ini masih, jadi kalau kita bilang 20an itu kan masih muda ya. Ada begitu banyak hal yang bisa kita berikan selagi kita muda, selagi kita masih punya banyak kekuatan, masih punya banyak stamina. Karena beda banget kondisinya ketika seseorang yang masih single, kemudian dia menikah, kemudian dia punya anak, pasti dari mulai apa ya, coping untuk manajemen waktunya akan lebih berbeda, akan lebih complicated di akhirnya gitu. Jadi kalau masih sekarang umur 20an, belum menikah, akan ada lebih banyak hal yang bisa kamu kerjakan. Dari mulai ikut ABCD, mengikuti perlombaan ABCD, atau ikut kegiatan ABCD. Ketika sudah menikah akan mulai terbagi waktunya, bahwa saya nggak akan bisa seperti dulu lagi. Jadi harusnya akan lebih banyak kebermanfaatan yang bisa kita kerjakan. Ketika saya lulus 3.5 tahun aja saya merasa bahwa, “sayang banget ya nggak lulus 4 tahun” Kalau lulus 4 tahun kan saya masih punya kesempatan menyandang gelar mahasiswa, jadinya kan kalau ikut konferensi dapat harga lebih murah, atau bisa dibiayai, dan lain sebagainya. Tapi kalau udah lulus kan nggak. Jadinya manfaatkanlah kondisi apapun yang sedang kita jalani saat ini. Insyaa Allah dengan kita berniat memberikan banyak kebaikan, Allah akan mudahkan di sana. KALA: Oke. Terus bagaimana Mbak akhirnya menjalankan semuanya tuh secara seimbang gitu Mbak? Karir atau study-nya, kemudian kehidupan berumah tangga, bahkan juga mengurus anak. Dewi: Jadi perihal manajemen waktu dari semua perannya, jadi tergantung dari setiap orang. Kalau saya pribadi, kalau misalnya dulu saya suka bilang ada etape-etapenya. Saya harus, saya punya dakwah sekolah, saya punya dakwah kampus, saya punya dakwah masyarakat. Ketika sudah menikah tambah lagi lah perannya, sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, dan sebagai seorang anak dari orangtua saya Jadi bagi waktunya memang bener-bener harus, harus dengan baik. Kalau saya pribadinya tetep lebih sistematis, orangnya lebih suka yang rapi terencana. Jadi kapan saya harus masak saya tau, bahkan jadwal belanjaan. Jadi kalau kamu ada yang nanya, ”Mbak Dewi belanjanya gimana?” Saya belanja online. Jadi saya nggak lang, saya nggak ke supermarket, jadi biasanya cuma belanja online. Menu makan 2 minggu untuk di rumah udah saya tulis sebelumnya, jadi saya sudah beli bahan makanan untuk 2 minggu setelahnya. Jadi saking, jadi mengejar agar lebih rapi karena waktu saya harus menjalankan kuliah S3, suami kuliah S3, ada anak juga yang sekolah Jadi mau nggak mau kita harus ngatur waktu karena kita nggak punya nanny, kita nggak punya babysitter, kita nggak punya, kita nggak menitipkan anak kita di daycare. Jadi mau nggak mau saya dan suami ini harus ngatur jadwalnya, kapan saya ngampus, kapan suami saya ngampus. Kayak sekarang misalnya saya cuma bisa ngampus 2 minggu dan hanya punya waktu 2 hari dalam seminggu Jadi kayak, kerjaan yang harusnya dikerjakan 35 jam dalam seminggu, saya mepetkan 35 jam dalam waktu 2 hari. Nggak sampai 35 jam akhirnya, tapi 24 jam. Tapi dalam waktu 24 jam itu, saya harus menyelesaikan tugas-tugas Ph.D, tugas-tugas penelitian, tugas-tugas projek, dan lain sebagainya. Jadi itu sih gambarannya. Jadi mau nggak mau memang harus rapi, belajar untuk bekerja dengan cepat dan produktif. KALA: Oke. Waw, waw. Mbak kalau misalnya dari, apa, kayak hidup teratur itu memang dari kecil atau bagaimana Mbak? Dewi: Emm gimana ya? Dulu itu ibu saya suka banget bikin saya sibuk. Itu, jadi kalau dari kecil itu ada les ini, les itu, segala macem lah ya diikutin. Tapi itu kayak mungkin ngebentuk pribadi saya untuk nggak cepat lelah. Makanya ketika SMA, saya sudah mulai ikut OSIS dan lain sebagainya, selalu menjadi orang yang pulangnya paling terakhir. Pas masuk kampus, udah mulai sampai pulangnya malem, tapi itu dengan izin ya. Jadi waktu itu ibu saya sampe pertama kali saya mengikuti kegiatan dan begitu sibuk, ibu saya ngomong sama wali kelas saya di SMA, “anak saya ikut apa sih kegiatannya?”, “bener nggak kegiatannya?” dan lain sebagainya. Tapi ketika saya bisa buktikan ke ibu saya bahwa kegiatan yang saya ikuti semuanya adalah positif, dan memang memberikan kebermanfaatan untuk orang lain, ibu saya percaya. Misalnya ketika saya kuliah, saya suka ikut bakti sosial, dan bakti sosialnya kadang di RW sebelah, atau di RT sebelah. Ibu saya denger kalau tetangga lain bilang, “Oh ini kemarin Dewi ini abis meriksa kesehatan, meriksa gula darah, segala macem”, misalnya. Jadi ibu saya melihat dengan langsung bahwa anaknya benar memberikan kebermanfaatan. Saya yang pulangnya jam 10 malam gara-gara harus rapat di yayasan, waktu itu saya megang organisasi dhuafa dan anak yatim di daerah Jakarta Timur, dan sampai sekarang masih dilaksanakan. Jadi even kadang saya bagi waktu nih, kapan harusnya saya kuliah di kampus, kapan harusnya saya ngisi dakwah ke sekolah di SMP, SMA, dan SD, kapan saya harus ngikutin organisasi profesi seperti kegiatan perkumpulan asosiasi kesehatan masyarakat se-Indonesia, dan lain sebagainya, kapan saya harus menjadi anak bagi ibu saya, dan lain sebagainya. Jadi semua memang harus direncanakan dengan matang. Jadi semenjak itu, dari kecil, SMA, terus sampai dengan kuliah, saya terbiasa mengatur, mengorganisir jadwal saya dengan cara yang baik. Dan mau nggak mau memang, apa ya? Perjuangannya nggak sedikit. Karena kalau dibayangkan ketika semester akhir itu saya memegang 13 amanah di 10 organisasi yang berbeda. Jadi udah bisa kebayang gimana caranya saya mengatur waktu sedemikian rupa untuk bisa tetap bekerja, bermanfaat di semua lini yang saya ambil. KALA: Oke. Kan seperti itu ya Mbak, sampai dilatih dan lain sebagainya. Sebenernya ada treatment khusus nggak dari keluarga, atau dukungan-dukungan khusus dari keluarga? Dewi: Kalo dukungan khusus itu sih pasti ya Misalnya kayak karena, misalnya saya sudah berencana dari tingkat pertama saya masuk ke FKM. FKM itu bukan pilihan pertama saya tapi pilihan kedua saya. Ketika saya menyadari bahwa Allah memberikan saya FKM sebagai tempat saya kuliah S1, maka saya berfikir bahwa saya harus menjadi yang terbaik di bidangnya. Semenjak itu pula, saya langsung menuliskan rencana, langsung menuliskan target saya. Misalnya saya tulis, “saya mau lulus 3.5 tahun”, “saya mau menjadi mahasiswa berprestasi FKM UI”, dan lain sebagainya. Itu sudah saya tulis semenjak semester 1, pertama kali masuk. Dan qadarullah-nya, ketika kita sudah menuliskan rencana kita, itu kan bagian dari doa ya. Ternyata Allah mudahkan perjalanannya, Allah mudahkan perjalanannya bagi saya untuk memenuhi semua yang sudah saya tuliskan perencanaan di awal itu. Nah, akhirnya saya merasa bahwa apa-apa yang sudah kita rencanakan dari awal dengan matang, Allah tau doa-doa kita sejak awal. Allah akan mudahkan. Misalnya ketika saya lagi mengerjakan, jadi kan kalau di kampus sudah sibuk tuh dengan kegiatan organisasi. Pulang sampai rumah jam 8 malam. Saya sempatkan waktu 2 jam untuk ngobrol sama ibu saya, untuk ngasih laporan setiap hari. Saya hari ini begini begini begini, teman saya ini ini. Jadi kalau ibu saya ditanya, ibu saya tau siapa temen saya, berapa nomer hp-nya, ibu saya pasti akan tau semuanya. Jadi saya benar-benar terbuka sama ibu saya Ibu saya bahkan bilang, “Dewi ini kalau jatuh nyandung batu di jalan, saya pasti tau” gitu. Karena saya nggak pernah menutup isu atau apapun dari ibu saya. KALA: Oh berarti kedekatan.. Iya, kedekatannya, jadi saya sudah tumbuh kepercayaan dari orangtua, orangtua percaya “anak kita tuh nggak macem-macem”, “anak kita tuh ngerjain sesuatu yang baik”, dan lain sebagainya. Nah makanya, misalnya let’s say saya jam 8 pulang, kalau nggak rapat ke yayasan ya. Saya ngobrol sama ibu saya sampai 3 jam sambil makan malem segala macem, habis mandi gitu kan, jam 10-jam 11. Ntar jam 11 ini saya mulai mengerjakan untuk kompetisi, proposal karya tulis ilmiah, dan lain sebagainya. Biasanya saya tidur jam 2 malam. Nah ibu saya ini biasanya kalau sudah tau saya mau begadang, mau mengerjakan segala macemnya itu, ibu saya tuh udah nyiapin jus, makanan, buah, dan mungkin emang nggak bisa nemenin saya sampe pagi, tapi ibu tuh tidur di sofa ruang tamu, dan memang tidur aja di samping saya. Saya mengerjakan ngetik-ngetik segala macem, ibu saya tidur di ruang tamu aja. Jadi, terkesan menemani anaknya, dan menyediakan apa yang saya perlukan, gitu. Karena ibu saya tau bahwa saya mengerjakan sesuatu yang baik. Apalagi ketika di momen saya mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi FKM UI, pun di UI, ketika orangtuanya diundang, ibu dan ayah saya merasa sangat senang, gitu. Itu merupakan pembuktian bahwa saya menghabiskan waktu saya bukan dengan hal yang sia-sia. Tapi menghabiskan waktu saya dengan sebaik-baiknya, bukan, jadi bertanggung jawab gitu. Kalau kita mengambil pilihan untuk mengambil banyak organisasi, pastikan bahwa kita juga bertanggungjawab terhadap akademis kita. Karena itu adalah titipan utama atau amanah utama yang harus kita kerjakan sebagai seorang mahasiswa. Jadi orangtua saya sangat mendukung, sangat mendukung. KALA: Kalau misalnya, kan tadi Mbak cerita ya bahkan sampai hampir setiap hari ya berarti, apa, telpon sama ibunya sepanjang 3 jam gitu. Itu tuh memang rutin dilakukan dari kecil atau bagaimana Mbak? Kedekatan itu di.. Dewi: Jadi saya nggak, jadi gini, saya dulu tuh pas kuliah di UI dengan alasan bahwa universitas yang ada di Jakarta, di daerah Jabodetabek itu ya cuma UI, UNJ, sama apalagi tuh. Universitas negerinya kan itu aja. Makanya saya jadi, karena saya nggak boleh ke luar kota maupun ke luar negeri. Kenapa? Karena ibu saya tetep mau jagain saya selama saya S1. “Kalau misalnya kamu mau S2 ke luar negeri silahkan dek, tapi kalau S1 nggak boleh”, itu kata ibu saya. Jadi 3 jam itu nggak nelpon sih, tapi ketemuan langsung. Karena saya pulang ke rumah PP setiap hari, Jakarta-Depok-Jakarta-Depok, 2 jam-2 jam, jadi 4 jam perjalanan, segala macem. Iya, karena, saya nggak, ini masih, ibu juga di Jakarta, jadi kita tetep 1 rumah. Sampai dengan S1 selesai tuh masih dengan ibu. Makanya setiap hari ibu bawa bekal, sampai dengan saya lulus S1 itu saya masih bawa bekal dari ibu saya. Itu masih selalu kayak gitu. Pagi-pagi ada susu tuh wajib. Karena memang kegiatan saya kan banyak, mau nggak mau makanannya juga harus banyak dan bergizi. Jadi saya nggak pernah jajan di luar, di kantin, segala macem tuh nggak pernah. Saya hanya makan dari bekal ibu saya. Itu juga salah satu bentuk dukungan beliau terhadap apa-apa yang saya kerjakan. Jadi iya, 3 jam itu dibilang dekat, dekat iya, setiap hari iya. Setiap hari, saya benar-benar membangun kedekatan sama ibu itu setiap hari. Karena memang harus ada jadwalnya deh ngobrol itu pasti ada jadwalnya setiap hari Either sejam, 2 jam, tergantung. KALA: Itu memang kayak sudah terbiasa dari kecil gitu Mbak? Atau memang baru? Dewi: Nggak, itu per SMA. Per SMA ketika ibu saya mulai menanyakan, “kamu ngerjain sesuatu yang bener kan?” Nah, semenjak saya sibuk itu, sibuk sampai dengan, jadi kan peraturan ibu saya itu sebelum Maghrib sudah harus pulang ke rumah Itu peraturan awalnya. Bahwa saya anak perempuan harus pulang sebelum Maghrib. Itu adalah peraturan awal ibu saya. Ketika mulai SMA, peraturan ini tuh mulai, mulai geser ketika, tapi saya harus pulang, kalau saya pulang lewat dari Maghrib saya harus nelpon ibu saya, harus izin terlebih dahulu. Ngasih tau “Bu, saya masih di sini dan lalalala”, kayak gitu lah ya. Nah jadinya, peraturan itu berubah, dan akhirnya kan saya memang selalu izin kalau pulangnya lewat dari Maghrib. Tapi ibu saya penasaran, ”kamu ngapain sih pulang sampai Maghrib?” dan lain sebagainya, “Temennya udah pulang tuh”, ya jadi gitu lah ya. Akhirnya ya itu, semenjak SMA itu saya harus bangun kepercayaan ibu karena saya sudah mulai pulangnya agak sore menuju malam. Kalau saya tuh jam 6 sore dari sana, karena 1 jam perjalanan dari Cililitan ke Lobang Buaya, jadinya nyampe rumah sekitar jam 7 atau jam 6 sore. Ya itu musti ngobrol sama ibu terus, mau nggak mau. Apalagi ketika kuliah yang jadwalnya semakin padat lagi. Gitu. KALA: Hmm baik, baik Mbak. Terus kemudian Mbak, kan tadi kayaknya Mbak Dewi kan cerita ya, bahwa FKM pun bahkan pilihan kedua gitu. Banyak remaja-remaja yang bahkan ketika dia pilihannya kedua, itu tuh kadang kayak tidak bisa move on dari pilihan pertamanya. Atau dia merasa bahwa itu tidak passion-nya gitu. Bagaimana akhirnya Mbak percaya dan malah langsung menjadi prestatif di FKM? Dewi: Jadi yang harus kita ingat, pilihan hidup itu kan ada ya. Tapi yang memutuskan apa-apa yang terbaik buat kita tuh bukan kita yang tau gitu. Apa yang bisa membuat saya move on adalah kepercayaan saya kepada Allah bahwa apapun yang Allah pilihkan bagi saya adalah yang terbaik buat saya. Saya tidak memiliki kekuatan untuk mengetahui segala hal yang saya kerjakan ini adalah paling baik buat saya. Tapi cuma satu-satunya Zat Yang Maha Pencipta kita itu yang tau ini tuh yang paling terbaik. Jadi yang membuat kita move on adalah keikhlasan, kepasrahan, ketakwaan. Kalau kita memang benar-benar takwa dengan Allah, percaya bahwa pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik, nggak akan ada penyesalan gitu. Kalau Allah nggak menempatkan saya di sini, berarti memang bukan yang terbaik bagi diri saya. Berarti ada pilihan lain yang menurut Allah akan lebih baik bagi diri saya. Dan itu pula yang membuat saya percaya sampai dengan sekarang, nggak cuma pilihan S1 aja sih. Itu kayak tahap pertama saya belajar ikhlas “okay, ini bukan pilihan terbaik buat saya. Allah nggak pilihin ini”. Pun ketika mau S2, dapet beasiswa, nggak dapet sesuai dengan yang saya inginkan, saya akan belajar, belajar untuk ikhlas, belajar percaya bahwa apa-apa yang sudah Allah tetapkan adalah yang terbaik buat saya. Pun sampai dengan S3. Itu kan, pasti kan kita dihadapi dengan banyak pilihan hidup. Dan mau nggak mau kita harus ikhlas menerima apapun yang sudah Allah tetapkan buat kita. KALA: Secepat apa Mbak waktu itu untuk berusaha ikhlas, pindah dari yang keinginan? Dewi: Kalau yang S1 sih agak, agak lebih mudah bagi saya. Yang waktu agak sulit itu adalah ketika mau S2. Saya berencana lulus 3.5 tahun itu maksudnya setengah tahun saya punya persiapan langsung mau S2. Tapi ternyata Allah tangguhkan. Allah tangguhkan setahun, 1.5 tahun totalnya karena saya lulus 3.5 tahun. Allah tangguhkan 1 tahun dan saya harus belajar lebih ikhlas karena udah beberapa kali daftar beasiswa, tapi juga nggak diterima, atau melakukan kesalahan kecil yang sebenarnya nggak harus dilakukan. Akhirnya ketika saat itu saya belajar bahwa Allah itu punya rencana-Nya sendiri yang mungkin rencana-Nya jauh lebih baik dari rencana saya. Allah punya rahasia kenapa akhirnya saya mulai S3 ini ditangguhkan 2 tahun setelah saya lulus S2, dan lain sebagainya. Jadi saya mulai apa ya? Lebih mudah percaya sih. Yang pertama kali agak berat itu ketika mau S2 dan sampai dengan hari-H-nya harus kuliah, saya belum juga dapet beasiswa. KALA: Itu kuliah di luar negeri kan ya Mbak ya? Waktu S2. Dewi: S2-nya di Imperial College London. S2 itu salah satu perjuangan yang berurai air mata sebenernya Karena dulu itu saya belajar S2 bahwa, jadi dulu kan waktu kuliah tahun 2011, 2010-2011 lah ya. Penyedia beasiswa itu terbatas, nggak banyak yang mau memberikan beasiswa. Atau dari pemerintah tuh cuma ada, apa ya? Dari Diknas, Dikti, terus yang lainnya tuh dari Chevening, dari ADS, dari Monbugakusho untuk negara-negara masing-masing. Nah dulu itu saya sampai merasa bahwa ketika daftar di Australia aja, di beasiswa ADS itu, saya lupa tanda tangan Itu tuh kayak silly mistake gitu loh. “Ini harusnya nggak terjadi tapi kenapa saya lupa tanda tangan?” gitu. Dan akhirnya merasa bahwa memang kalau Allah nggak takdirkan, nggak bakal Allah kasih. Dan ketika akhirnya saya dapet pilihan dari Diknas, “kamu mau kuliah S2 di Indonesia aja, S3 di Indonesia dan kami biayai atau S2-nya kamu tetep ke Imperial, tapi kita biayai hanya 500 pounds per bulan?” Sedangkan biaya di sana 1000 pounds, jadi kurang 500 pounds. Dan saya nggak mungkin nutupin 10 juta sendiri. Akhirnya opsinya tuh begitu atau yang satu lagi BU Dikti. Beasiswa Unggulan Dikti ini sudah sampai dengan hari-H-nya saya harus kuliah, nggak ada jawaban juga. Setiap minggu saya telpon, setiap bulan saya telpon terus, nggak ada jawaban. Sampai dengan akhirnya, hari-H sudah mulai kuliah di Inggris, saya mendapatkan e-mail dari BU Dikti bahwa “kamu kan penerima beasiswa, kenapa nggak diurus?” Itu rasanya, laa haula wa laa quwwata illa billah. Saya masih bisa sekolah atau nggak? Itu tuh bener, uh masyaaAllah. Dan akhirnya saya bener-bener belajar ikhlas gitu. Saya sudah sampai nelpon ke Inggris, saya bilang “boleh nggak kalau saya telat datangnya?” Saya belum ngurus visa. Ngurus visa ke Inggris tuh 1 bulan. Nggak mungkin bisa jadi cepet. Jadinya belum lagi urusan pekerjaan yang belum selesai, packing nggak ada, dan lain sebagainya. Jadi bener-bener waktu itu doanya bener-bener, “Ya Allah kalau memang Engkau izinkan saya untuk menuntut ilmu lebih tinggi lagi, izinkanlah saya untuk menapaki London”, gitu. Jadi bener-bener ngerasanya, “oh masyaa Allah gimana mungkin nggak ya? Kalau saya dalam waktu sekian.” Akhirnya nelpon ke Imperial, dikasih waktu 2 minggu. “Kalau 2 minggu kamu nggak bisa dateng, maka kamu nggak akan bisa sekolah lagi di sini” Akhirnya saya dikasih waktu 2 minggu, itu ngurus surat, apa, penerimaan, letter of acceptance dari Imperial, mesti ngirim pake DHL ke Inggris dulu baru balik lagi segala macem gitu lah. Agak ribet pokoknya urusan-urusan dokumen yang mesti dikerjakan, dan lain sebagainya. Itu akhirnya hari Rabu saya daftar visa Inggris, udah dapet charge, kan jadi kalau sekolah di sini tuh harus punya nomer dari Inggrisnya, dan lain sebagainya. Itu yang musti diurus tuh lama. Hari Rabu saya baru bisa daftar visa, hari Jum’at sore visa saya keluar, dan itu alhamdulillah banget saya nggak nyangka. Visa itu keluar Jum’at sore, Jum’at malemnya saya langsung berangkat ke Inggris. Jadi bener-bener pengumuman jam 5, jam 12 malem saya berangkat langsung. Jadi oh masya Allah udah lillahi ta’ala. Itu nggak tau mau tinggal di mana, nggak tau transport di sana gimana. Udah pokoknya saya niat mau sekolah, “Ya Allah saya niat mau sekolah”. Jadi dulu tuh pengalaman S2 aja, yaa begitu Perjuangannya nggak sedikit memang, tapi saya selalu percaya, bahwa ketika memang Allah sudah menetapkan sesuatu untuk kita, insyaaAllah itu yang terbaik. Kalaupun perjalanannya berliku untuk menuju ke sana, itu adalah hal yang normal gitu. Jangan pernah merasa bahwa keberhasilan yang besar didapatkan dengan usaha yang minimal, itu nggak mungkin. Akhirnya ya tadi, saya belajar dari pengalaman itu bahwa berusahalah sampai titik akhir kita harus menuju ke sana. Jadi kalaupun merasa nggak mungkin, nggak mungkin selesai dan lain sebagainya, keep on trying. Keep on trying sampai dengan kamu melihat ada kemudahan yang Allah berikan di ujung perjalanan. (lanjut ke part 3) Like, Comment, Subscribe :) Follow kami di Instagram @kalajournal Terima kasih sudah menonton :)

Loading